Pemanfaatan Limbah Cair (Whey) Industri Tahu Menjadi Nata de Soya dan Kecap Berdasarkan Perbandingan Nilai Ekonomi Produksi.

Sulik Sutiyani, Wignyanto Wignyanto, Sukardi Sukardi

Abstract


Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan nilai ekonomi limbah cair (whey) dari industri tahu dan membandingkan dua alternatif pengolahan (whey) menjadi nata de soya dan kecap berdasarkan nilai ekonomi produksi. Manfaat dari penelitian adalah dapat diketahuinya keuntungan maksimal dari masing-masing produk yang diolah yaitu produk nata de soya dan kecap selain itu dapat menekan dampak negatif yang ditimbulkan limbah cair (whey) dari industri tahu.

Metode penelitian yang digunakan adalah analisis ekonomi produksi yang terdiri dari Total Capital Investment, Total Cost, penentuan Harga Pokok Produksi, dan Harga Jual, Analisis Penerimaan, Analisis Keuntungan, dan Analisis Kelayakan Usaha yang meliputi analisis Break Event Point, Return of Investment, Benefit Cost Ratio dan Pay Out Time. Analisis keputusan pemilihan alternatif terbaik berdasarkan pada nilai ekonomi produksi dan kelayakan usaha.

Hasil pembuatan nata de soya berdasarkan referensi dari Handayani, Prawito, dan Bustaman (1999), diperoleh rendemen sebesar 55% dengan ketebalan 1,2 cm, sedangkan untuk rendemen kecap diperoleh hasil 18,75% dengan kadar protein sebesar 2,3% dan kadar air 22%.

Kebutuhan bahan baku/(whey) sebesar 8000L/hari dengan kapasitas produksi nata de soya sebesar 4400 kg/hari dan kecap sebesar 2400L/hari. Selama setahun diperoleh produksi nata de soya sebesar 2.640.000 kemasan dan kecap sebesar 1.440.000 kemasan.

Total Capital Investment produk kecap lebih tinggi dibandingkan produk nata de soya, yaitu Rp 4.965.770.500 dan Rp 2.687.575.500 untuk nata de soya.  Perhitungan total biaya selama 1 tahun nata de soya Rp 2.149.336.875  dan untuk produk kecap Rp 4.835.675.950. Harga pokok produksi untuk produk nata de soya Rp 814,14 dan untuk produksi kecap Rp 3.358,00 dengan asumsi tingkat keuntungan sebesar  45 % diperoleh  perhitungan  harga  jual untuk produk nata de soya ditingkat  agen  sebesar  Rp 1.250,00/kemasan (500 g) dan untuk kecap Rp 4.950/kemasan (500 ml).  Total penerimaan  yang  diperoleh  selama satu tahun produk nata de soya adalah Rp. 160.663.125 dengan total keuntungan sebesar Rp.114.596.812/tahun, untuk produk kecap Rp.4.989.600.000 dengan total keuntungan Rp 138.531.645/tahun. Perolehan total keuntungan yang lebih besar pada produk kecap disebabkan harga output yang dihasilkan selama 1 tahun produksi lebih besar dibandingkan harga produksi (output) nata de soya, sehingga keuntungan tiap unit produk akan berpengaruh terhadap total keuntungan.

Analisis kelayakan usaha untuk produk nata de soya diperoleh Break Event Point pada penerimaan Rp 755.045.454 Return of Investment 1,1 % dan Benefit Cost Ratio 10 %, sedangkan untuk produk kecap Break Event Point pada penerimaan Rp 1.489.019.000, Return of Investment 1,03 % dan Benefit Cost Ratio 3 %, Pay Out Time pada produk nata de soya dicapai dalam waktu 3.6 tahun, sedangkan pada produk kecap dicapai dalam waktu 2,6 tahun. Kedua usaha sama-sama menguntungkan, namun pengembangan usaha nata de soya memiliki kelayakan usaha lebih baik dibandingkan dengan pengembangan usaha produk kecap, karena pemanfaatan modal untuk produk nata de noya lebih efektif dan tingkat keuntungan yang diperoleh dari seluruh modal yang diinvestasikan lebih besar dibanding pengembangan usaha kecap. Peningkatan nilai ekonomi limbah cair tahu setelah diolah menjadi nata de soya adalah sebesar Rp. 792,5 setiap satu liternya, sedangkan setiap satu liter limbah yang diolah menjadi kecap manis adalah sebesar Rp.936,4.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Sulik Sutiyani, Wignyanto Wignyanto, Sukardi Sukardi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.